Lilanono pamit mulih...
mesti kulo yen seje jodone...
mugo enggal antuk pulih..
wong sing bisa ngeladeni slirane...
pancen abot jroneng ati...
ninggal driko wong seng tak tresnai...
nanging bade kados pundi...
yen kawulo sadremo nglampahi...
mung seprene....
atur puji kario raharjo..
sak pungkure...ojo lali asring kiring warto...
eman eman benjang driko,....
yen to nganti digawe kuciwo...
batin kulo mboten lilo,..
yen to nganti...mung di sio sio....
By Gesang
Bocah Semoi I
Rabu, 11 April 2012
Mengintip Sejarah dan Perjuangan Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Asal Pulau Jawa di Suriname, Amerika Selatan
Pendahuluan
Jauh
sebelum Pemerintah Republik Indonesia mengirimkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
ke Luar Negeri, Pemerintah Belanda pada tahun 1890 telah mengirimkan 32.986
orang TKI asal pulau Jawa ke Suriname, suatu Negara Jajahan Belanda di Amerika
Selatan. Tujuan pengiriman TKI itu adalah untuk mengganti tugas para budak
asal Afrika yang telah dibebaskan pada tanggal 1 Juli 1863.
Setelah
secara resmi para budak itu dibebaskan, mereka beralih profesi dan bebas memilih
lapangan pekerjaan yang dikehendakinya. Dampak pembebasan para budak itu,
banyak perkebunan didaerah itu tidak ada yang mengurus, terlantar dan
mengakibatkan perekonomian yang selama itu sangat tergantung dari hasil
perkebunan, turun drastis. Adapun dasar Pemerintah Belanda memilih para TKI
dari pulau Jawa itu adalah, rendahnya tingkat perekonomian
penduduk sebagai akibat bencana meletusnya gunung berapi dan padatnya
penduduk di pulau Jawa jika dibandingkan dengan daerah lainnya. Berbagai cerita
tentang meletusnya gunung berapi itu sering disampaikan para TKI pada saat itu
kepada para anak cucunya di Suriname, karena mereka tahu betul, bahkan
mengalami adanya udan awu atau hujan debu akibat letusan gunung berapi sebelum mereka
diberangkatkan untuk kerja kontrak ke Suriname. Pada umumnya para TKI itu
berasal dari daerah Jawa Tengah Dan Jawa Timur. Ada juga dari daerah Jawa Barat
tetapi jumlahnya lebih sedikit.
Sejarah pengiriman TKI
Gelombang
pertama pengiriman TKI itu diberangkatkan dari Batavia (Jakarta) pada tanggal
21 Mei 1890 dengan kapal SS Koningin Emma. Pelayaran jarak jauh ini singgah di
Negeri Belanda dan akhirnya tiba di Suriname pada tanggal 9 Agustus 1890. Oleh
sebagian orang Jawa yang masih tinggal di Suriname dan yang sekarang masih
tinggal di Negeri Belanda, tanggal 9 Agustus selalu dikenang dan diperingati
sebagai suatu tanggal yang sangat bersejarah. Jumlah TKI gelombang pertama ini
sebanyak 94 orang, terdiri dari 61 orang pria, 31 orang wanita dan 2 orang anak-anak.
Gelombang kedua sebanyak 614 orang, tiba di Suriname pada tanggal 16 Juni 1894 dengan
kapal SS Voorwarts.
Muatan
kapal kedua ini melebihi kapasitas, sehingga kondisinya tidak memenuhi syarat
sebagai kapal angkut personil. Akibatnya 64 orang penumpang kapal meninggal
dunia dan 85 orang harus dirawat di rumah sakit setelah kapal tiba di pelabuhan
Paramaribo, Suriname.
Kejadian
yang menyedihkan ini tidak ada tanggapan dari Pemerintah Belanda, bahkan begitu
saja dilupakan. Mungkin karena Pemerintah Belanda menganggap bahwa yang
meninggal itu hanya para pekerja miskin, sehingga tidak ada tindakan apa-apa.
Meskipun demikian, kegiatan pengiriman TKI ini berjalan terus sejak tahun 1890
s/d 1939 hingga jumlahnya mencapai 32.986 orang dengan menggunakan 77 buah
kapal laut. Dari tahun 1890 s.d. 1914 rute pelayaran pengiriman TKI ke Suriname
selalu singgah di Negeri Belanda. Pengiriman TKI terakhir adalah pada tanggal
13 Desember 1939 sebanyak 990 orang. Mohon periksa catatan tentang pengiriman
TKI ke Suriname mulai tahun 1890 s/d 1939 dan nama-nama kapal yang mengangkut
para TKI itu, terlampir.
Perusahaan
Pelayaran yang mengangkut para TKI itu adalah De Nederlandsche Handel Maatschappij,
tetapi sejak tahun 1897 pengiriman TKI dikelola langsung oleh Pemerintah Hindia
Belanda. Akibat pengiriman TKI ke Suriname ini, telah mengurangi padatnya
penduduk Pulau Jawa. Atas dasar itu pada bulan Nopember 1905 Pemerintah Belanda memindahkan 155 kepala keluarga
asal Pulau Jawa (Keresidenan Kedu), yaitu dari Kabupaten Karanganyar, Kebumen
dan Purworejo ke Gedong Tataan, Keresidenan Lampung. Ini adalah awal sejarah
transmigrasi di Indonesia pada jaman Belanda dengan nama Kolonisasi.
Lapangan kerja dan pengupahan
Di
Suriname sendiri pada waktu itu sudah ada tenaga kerja lain yaitu orang Creole
asal Afrikayang dibawa ke Suriname pada awal abad 16 sebagai budak, orang
Tionghoa asal Cina yang dibawa ke Suriname pada tahun 1853 dan orang Hindustan
asal India yang dibawa di Suriname pada tahun 1873. Khususnya orang-orang
Creole asal Afrika yang tidak tahan bekerja sebagai budak, banyak yang
melarikan diri kedalam hutan. Kelompok ini dahulu disebut “Djoeka”, tapi sekarang
menamakan diri sebagai “suku” Marron yang jumlahnya menempati urut No. 3. Para
tenaga kerja di Suriname pada waktu itu, termasuk para TKI itu dipekerjakan di
perkebunan tebu, perkebunan cacao (coklat), perkebunan kopi dan tambang bauxit.
Gaji yang diterima pekerja laki-laki usia diatas 16 tahun sebesar 60 sen dan
pekerja wanita usia diatas 10 tahun sebesar 40 sen setiap harinya. Berdasarkan
perjanjian, para TKI itu harus bekerja secara kontrak selama 5 tahun.
Waktu kerja adalah 6 hari dalam satu minggu.
Setiap
hari diwajibkan bekerja selama 7 jam di perkebunan dan 10 jam di pabrik. Setelah
masa kontrak berakhir, mereka diberi hak untuk kembali ke Indonesia sebagai
Repatrian atas biaya Pemerintah Belanda. Para TKI yang memanfaatkan perjanjian
itu, sejak tahun 1890 s/d 1939 telah kembali ke Indonesia dengan kapal laut
sebanyak 8.120 orang. Pada tahun 1947 terjadi
lagi gelombang Repatriasi berikutnya sebanyak
1.700 orang.
Sisanya
tidak menggunakan haknya. Mereka memilih tetap tinggal di Suriname, walaupun
hubungan kerja dengan para pemilik perkebunan sudah berakhir. Bagi mereka yang
memilih tetap tinggal di Suriname, memperoleh sebidang tanah garapan dan menerima
penggantian uang Repatrasi sebesar 100 gulden Suriname per orang. Sejak masa kejayaan
perkebunan tebu mulai merosot, banyak TKI yang beralih profesi menjadi penggarap
sawah mereka sendiri dan atau bekerja pada pertambangan bauxit seperti Moengo,
Paranam dan Biliton. Akibatnya daerah yang semula dikenal sebagai “district
Jawa” karena sebagian besar penduduknya keturunan Jawa yaitu di District
Commewijne, Saramacca, Coronie dan Nickerie,semakin terasa kekurangan tenaga
kerja.
Perang Dunia ke II
Selama
Perang Dunia II, perekonomian di Suriname membaik. Ini berkat adanya
pembangunan Instalasi Militer Sekutu di Paramaribo dan sekitarnya karena
berhasil menyerap banyak tenaga kerja. Tetapi setelah Tentara Sekutu
menghentikan pembangunan Instalasi militer itu, kondisi perekonomian terutama
perekonomian “masyarakat bawah” kembali memprihatinkan. Karena adanya kabar
yang menyatakan semua bekas Negara Jajahan Belanda akan memperoleh kemerdekaan,
maka di Suriname muncul partai politik. Pada tahun 1946 berdiri Partai
Politik (Parpol) orang Jawa, PBIS (Pergerakan Bangsa Indonesia Suriname)
pimpinan Bapak Soediono Soeriwisastro, yang kemudian digantikan oleh Bapak
Salikin Mardi Hardjo. Pada tahun 1947 berdiri Parpol lain KTPI (Kaum Tani
Persatuan Indonesia) pimpinan Bapak Iding Soeminta.
Salah
satu hasil KMB (Konferensi Meja Bundar) di Den Haag, Belanda, Suriname akan memperoleh
status Pemerintahan Otonom dan dianggap sebagai salah satu propinsi dibawah Kerajaan
Belanda. Tetapi sangat disayangkan akibat persaingan antar etnis itu, banyak
posisi jabatan dalam Pemerintahan Otonomi di Suriname, didominasi oleh
orang-orang Creol.
Gerakan “mulih nDjowo”
Pada
tahun 1950 diselenggarakan pemilihan umum. Setelah terbentuk lembaga
legislative hasil Pemilu, Suriname menjadi Daerah Otonom dibawah Kerajaan
Belanda. Secara otomatis seluruh penduduk Suriname menjadi Warga Negara
Belanda. Akan tetapi sekitar 75% orang-orang Jawa menolak menjadi warga negara
Belanda dan ingin tetap menjadi Warga Negara Indopnesia. Bagi mereka yang
menolak menjadi Warga Negara Belanda, merencanakan “pulang” ke Indonesia meskipun
harus membayar sendiri. Akhirnya mereka berhasil mengirimkan utusan ke Jakarta untuk
menghadap Presiden Republik Indonesia dan pada tanggal 15 Oktober 1951
membentuk sebuah Yayasan Tanah Air (YTA) dengan tujuan utama “mulih
nDjowo”. Semula Pemerintah Republik Indonesia akan “menempatkan” Repatrian asal
Suriname itu diKabupaten Metro, Lampung. Tetapi, atas dasar pertimbangan lain
akhirnya ditempatkan di Desa Lingkin Baru (Tongar), Kapupaten Pasaman, Sumatera
Tengah yang lokasinya sekitar 180 km dari Kota Padang. Setelah melewati proses
yang cukup panjang, akhirnya pada tanggal 04 Januari 1954 dengan menumpang kapal laut MS Langkoeas rombongan
pertama Repatrian dari Suriname itu, pulang ke Indonesia dengan biaya sendiri.
Biaya atau ongkos perjalanan laut dari Suriname ke Indonesia untuk orang dewasa
dan anak-anak yang berusia 10 tahun keatas sebesar Sf 375,- per orang dan untuk
anak-anak yang berusia 1 s/d 9 tahun sebesar Sf 187,50 per orang, sedangkan
untuk anak-anak yang berusia dibawah 1 tahun, tidak membayar. Rombongan pertama
Repatrian itu sebanyak 316 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 1.018orang,
dengan rincian sebagai berikut :
1. 368 orang dewasa yang lahir di Indonesia;
2. 247 orang dewasa yang lahir di Suriname;
3. 399 orang remaja dan anak-anak yang lahir di
Suriname (termasuk penulis makalah ini);
4. 4 orang bayi yang lahir dikapal selama pelayaran
dari Suriname ke Indonesia. (Salah satu nama bayi wanita yang lahir dikapal itu
diberi nama Langsinem).
Perjalanan laut dari Suriname ke Indonesia ini
dipimpin oleh Wakil Ketua YTA Bapak Johannes Wagino Kariodimedjo, beliau telah
meninggal dunia pada tanggal 08 Juli 2007 dan dimakamkandi Pakem, Kaliurang,
Jogjakarta. Dibantu oleh Sekretaris YTA Bapak Frans Ngatmin Soemopawiro,
sekarang beliau tinggal di Pekanbaru dan Bendahara YTA Bapak Atmidjan Sastro, sekarang
beliau tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta. Sesuai rencana rombongan pertama ini
akan diikuti oleh rombongan kedua, ketiga dan seterusnya. Akan tetapi rombongan
kedua dan seterusnya batal pulang ke Indonesia karena adanya ketegangan politik
masalah Irian Barat, yang berakibat putusnya hubungan diplomatik antara
Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda.
Meskipun
hubungan diplomatik antara Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Indonesia
sekarang telah baik dan telah pulih kembali, tetapi gagasan dan usaha untuk
meneruskan gerakan mulih nDjowo itu
tidak pernah ada lagi sampai sekarang ini.
Keadaan setelah para Repatrian tiba di Indonesia.
Setelah
berlayar selama satu bulan, sebelumnya singgah di Cape Town, Afrika Selatan,
akhirnya pada tanggal 05 Februari 1954 rombongan tiba di pelabuhan Teluk Bayur,
Padang dengan selamat. Telah disepakati bahwa tanggal 05 Februari ini selalu
dikenang dan diperingati oleh para mantan Repatrian asal Suriname, khususnya
mereka yang berdomisili di Jakarta dan Sekitarnya serta di Riau sebagai suatu
tanggal yang bersejarah. Setelah istirahat beberapa hari di Padang, selanjutnya
rombongan meneruskan perjalanan darat naik bis ke Desa Lingkin Baru (Tongar).
Di desa
Tongar ini para Repatrian ditampung dan tinggal dirumah berbentuk los panjang,
yang terbuat dari bedeng anyaman bambu dan disekat menjadi ruangan-ruangan
kecil ukuran sekitar 3 X 3 meter. Kondisi wilayah Tongar pada waktu itu masih
hutan lebat. Sekolah belum ada, pasar untuk menunjang kebutuhan pokok
sehari-hari hanya ada di kota kecil Simpang Empat yang lokasinya sekitar 5 km
dari Tongar. Alat transportasi umum tidak ada, sehingga hanya bisa ditempuh
dengan berjalan kaki. Situasi pada malam hari cukup mengerikan, binatang buas
seperti harimau kadang-kadang masih berkeliaran. Setiap saat terdengar suara
nyaring monyet hutan “siamang”, yang memecah kesunyian baik siang maupun malam.
Babi hutan “celeng” sering mengganggu tanaman yang ada. Masih agak beruntung
karena aliran listrik dari diesel generator yang dibawa sendiri dari Suriname
berfungsi walau terbatas. Semua itu membuat para Repatrian sedih dan ingat
Suriname. Akibatnya beberapa orang yang memiliki ketrampilan tertentu mulai meninggalkan
Tongar. Kepada para Repatrian ini, Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerindah
Daerah Setempat telah menyediakan dan memberikan tanah garapan sekaligus tanah
untuk tempat tinggal seluas 2.500 HA. Diharapkan dengan pembagian tanah yang
setiap keluarga akan memperoleh bagian sekitar 2 HA ini, mampu memberikan
harapan masa depan yang lebih baik. Akan tetapi sampai dengan makalah ini
ditulis, proses untuk mengurus kepemilikan tanah yang telah diberikan oleh Pemerintah
kepara para Repatrian ini masih sulit. Bahkan sekarang ini sebagian tanah-tanah
itu telah diambil dan dijual oleh golongan tertentu untuk perkebunan kelapa
sawit.
Proyek
Yayasan Tanah Air (YTA) di Lingkin Baru, Tongar, Kabupaten Pasaman, tidak berkembang
bahkan dapat dikatakan telah berantakan. Hal ini terutama disebabkan oleh
adanya perang saudara (PRRI) di Sumatera pada tahun 1958 dan tidak adanya
lapangan kerja yang memadai di Kabupaten Pasaman dan sekitarnya. Akibatnya para
generasi muda dan angkatan kerja asal Tongar banyak yang pindah dan mengadu
nasib yang lebih baik ke Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Palembang, Jakarta
dan daerah lainnya. Di tempat-tempat yang baru ini kondisi dan keberadaan para
Repatrian telah menyatu dengan masyarakat Indonesia lainnya. Kondisi sosial dan
ekonominya lebih baik. Mereka bisa menyekolahkan anak dan keluarganya ke sekolah-sekolah
yang lebih tinggi, bisa berkembang, bisa memperoleh pekerjaan, bahkan banyak
yang menempati jabatan-jabatan strategis baik diPerusahaan Swasta, di BUMN dan
di Pemerintahan (Militer, Polisi dan PNS). Pengalaman masa lalu yang pernah
dialami oleh para sesepuh, para saudara, para famili, para orang tua, perlu dijadikan
pelajaran yang sangat berharga untuk mewujudkan suatu masa depan yang lebih
baik, mengingat mereka telah tinggal di negera sendiri dan tidak numpang serta
tidak dijajah oleh Bangsa lain.
Geografi Republik Suriname
Lokasi
Suriname terletak di benua Amerika, tepatnya di Timur Laut Amerika Selatan.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Brasil, sebelah Timur dengan Guyana jajahan
Perancis, sebelah Barat dengan Guyana jajahan Inggris dan sebelah Utara
berbatasan langsung dengan Lautan Atlantik. Oleh karenanya seorang sosiolog
Indonesia, Prof Joesoef Ismael
(mantan
Dubes RI di Jerman Barat) dalam karya tulisnya menamakan Suriname dengan
sebutan “Indonesia” dipantai Lautan Atlantik. Republik Suriname berbentuk segi
empat, panjang sekitar 400 km dan lebar juga sekitar 400 km. Karena lokasinya
disekitar garis Khatulistiwa, maka Suriname beriklim tropis sama dengan Indonesia.
Beda waktu antara Jakarta dan Paramaribo adalah 10 jam. Misalnya, waktu di Jakarta
menunjukan pukul 00.00 tengah malam tanggal 2 Januari, maka waktu di Paramaribo
menunjukan pukul 14.00 siang tanggal 1 Januari. Jadi beda 10 jam, waktu Jakarta
lebih dahulu.
Keadaan menjelang Suriname merdeka
Menjelang
kemerdekaan Suriname tahun 1975, telah terjadi perpindahan penduduk (eksodus) secara
besar-besaran. Sekitar 150.000 orang penduduk Suriname termasuk orang-orang
Jawa telah meninggalkan Suriname pindah ke Negeri Belanda. Sekitar 150 orang
Jawa pindah ke Guyana Perancis, sebuah Negara Jajahan Perancis yang lokasinya
tepat disebelah Timur Suriname. Hal ini disebabkan oleh penindasan politis yang
dilakukan oleh golongan Creole dan ketegangan hubungan antar etnis sejak
kampanye pemilihan umum tahun 1973. Itulah sebabnya sejak 1975 sampai sekarang,
lebih dari 25.000 orang Indonesia suku Jawa asal Suriname telah pindah dan menetap
di Negeri Belanda, di Guyana Perancis dan di daerah lain disekitar Suriname. Sejak
Suriname merdeka pada tanggal 25 Nopember 1975, telah muncul beberapa partai
politik yang “berbau” Indonesia. Antara lain
Pendawalima
dan Pertjatjah Luhur yang telah berhasil “melahirkan” banyak Pemimpin orang
Jawa generasi kedua antara lain Bapak Willy Soemita dan Bapak Paul Salam
Somohardjo. Sejak awal tahun 2000 telah muncul lagi beberapa Pemimpin orang
Jawa lainnya. Jumlah orang Jawa yang pernah menjadi anggota Parlemen (DPR)
sebanyak 68 orang dan yang pernah menjadi Menteri sebanyak 30 orang.
Hasil
sensus penduduk tanggal 2 Agustus 2004, jumlah penduduk Suriname sebanyak
492.829 orang,
dengan rincian sbb. :
1. Orang Hindustani 135.117 orang,
2. Orang Creole 87.202 orang,
3. Orang Marron 72.553 orang,
4. Orang Jawa 71.879 orang,
5. Campuran 61.524 orang,
6. Tidak dikenal 32.579 orang,
7. Lain-lain 31.975 orang.
Wilayah
yang padat penduduknya hanya wilayah Utara, yaitu wilayah sepanjang pantai
Lautan Atlantik. Sedangkan wilayah Tengah dan wilayah Selatan yang berbatasan
dengan Brasil, masih jarang bahkan dapat dikatakan belum berpenduduk.
Pertumbuhan penduduk di Ibukota Paramaribo sekitar 2% sedangkan didaerah
lainnya, lebih tinggi.
Keadaan sosial dan budaya di Suriname sekarang ini.
Sebagian
besar penduduk Suriname beragama Kristen yaitu sekitar 201 ribu orang. Yang beragama
Hindu sekitar 98 ribu orang dan yang beragama Islam sekitar 66 ribu orang.
Khususnya orang Jawa yang beragama Islam sekitar 24 ribu orang, yang beragama
Kristen sekitar 5 ribu orang dan yang menganut kepercayaan tradisional sekitar
650 orang. Orang Jawa yang memeluk agama Islam, cara sholatnya terbagi menjadi
dua kelompok cara bersembahyang. Kelompok yang satu sholatnya berkiblat ke arah
Timur dan kelompok yang satu lagi sholatnya berkiblat ke arah Barat.Tentunya
hal ini menimbulkan masalah tersendiri diantara mereka. Meskipun orang-orang
Jawa ini telah lebih dari 100 tahun tinggal di Suriname, kenyataannya mereka
masih memiliki adat dan kebiasaan seperti di Pulau Jawa. Antara lain masih
ditemukan pesta tayuban, wayang kulit, wayang orang, ludruk, tarian jaran
kepang, kenduren atau selametan. Di District tertentu yang sebagian besar
penduduknya suku Jawa, “suasana Jawa” masih terasa kental. Sayangnya, bahasa
Indonesia belum banyak dimengerti, karena memang belum diajarkan. Bahasa Jawa
“ngoko” masih digunakan oleh kalangan terbatas, khususnya di “District” Jawa.
Bahasa India juga masih digunakan dikalangan orang India.
Bahasa
Nasional Republik Suriname adalah Bahasa
Belanda. Bahasa lain yang bisa dikatakan sebagai “Bahasa Nasional Kedua”
adalah Sranangtongo atau Taki-Taki.
Bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dan dimengerti oleh mereka
yang dilahirkan dan berasal dari Suriname. Kemajuan dalam sektor sosial budaya,
membaik. Sektor pendidikan cukup maju. Sekitar 88% dari jumlah penduduk tidak
buta huruf. Pemerintah menyediakan anggaran pada sektor pendidikan sekitar 18%.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial, telah menyediakan biaya kesehatan secara
cuma-cuma kepada mereka yang berpenghasilan rendah yang jumlahnya sekitar 250
ribu orang. Pegawai Negeri termasuk keluarganya yang jumlahnya sekitar 105 ribu
orang dianjurkan untuk mengikuti program asuransi kesehatan melalui Yayasan
Kesehatan Negara (Staats Zieken Fonds).
Sektor perumahan mengalami banyak
kemajuan, karena Pemerintah telah menyediakan pinjaman uang agar penduduk bisa
membangun rumah baru atau memperbaiki rumah yang sudah ada dengan bunga rendah.
Lapangan kerja meningkat, yaitu wanita dari 34% menjadi 37% dan pria dari 66%
menjadi 73%, sehingga pengangguran turun dari 16% menjadi 11%. Pada Pemilu
tanggal 25 Mei 2005 telah berhasil memilih 8 orang Jawa menjadi anggota DPR dan
sekaligus berhasil memilih Bapak Paul Salam Somohardjo sebagai Ketua Parlemen
(DPR) Republik Suriname sampai sekarang ini. Ini menunjukan bahwa kehidupan
beragama, berpolitik, kondisi perekonomian, sosial dan kebudayaan orang-orang
Jawa di Suriname, telah jauh lebih baik.
Kelihatannya
orang-orang Jawa ini telah memilih Republik Suriname dan Negeri Belanda sebaga itanah-airnya yang baru. Ini terungkap
dari pernyataan beberapa orang yang tinggal di Negeri Belanda. Mereka
menyatakan lebih baik tinggal di Negeri Belanda atau pulang ke Suriname daripada
pulang ke Indonesia. Hal ini bisa dimengerti, karena mereka lebih banyak
mengenal Negeri Belanda dan Suriname dari pada Indonesia. Berbeda dengan
rekan-rekan mereka yang telah lebih dahulu pulang ke Indonesia. Mereka yang
telah pulang ke Indonesia ini lebih suka tinggal di Indonesia dan telah
menjadikan Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya, meskipun diantara mereka
banyak yang lahir di Suriname.
Catatan
Penulis
makalah ini lahir di Desa Sidoredjo, District Nickerie, Suriname. Suatu
district orang Jawa dan daerah penghasil padi terbesar di Suriname. Dia pulang
ke Indonesia sebagai Repatrian pada tahun 1954 bersama ayah angkatnya. Sesuai
rencana, orangtua kandung dan 9 orang saudara-saudaranya akan pulang ke
Indonesia pada gelombang berikutnya, tapi sayang batal. Akibatnya, saudara-saudaranya
“pecah”, ada yang masih tinggal di Suriname, ada yang tinggal di Negeri Belanda
dan hanya “sendirian” tinggal di Indonesia bersama isteri, anak-anak dan
cucunya. Bercerai-berainya keutuhan keluarga orang-orang Jawa mantan TKI di
Suriname sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang ini, adalah akibat ulah
si Penjajah.
Demikianlah
sekelumit ceritera dari hasil “mengintip” sejarah dan perjuangan para TKI asal
pulau Jawa di Suriname, Amerika Selatan. Oleh karena tulisan ini adalah hasil
“mengintip”, maka dapat dipastikan isi keseluruhan cerita sejarah itu tidak
lengkap, bahkan masih banyak yang kurang. Oleh karena itu, penulis mohon maaf
apabila masih ditemukan banyak kekurangan. Penulis masih mengharapkan adanya
koreksi dan saran, demi lengkapnya isi cerita sejarah dan perjuangan paramantan
TKI ini.
Terima
kasih.
Jakarta,
16 Januari 2006
Penulis,
Drs. H.
Sarmoedjie
Kolonel
Laut (Purn)
HP :
0811-837233
Fax :
021-47865112E-mail :sikam-j@centrin.net.id
Sumber
2. Menelusuri hubungan Indonesia–Suriname oleh KBRI
Paramaribo.
3. Bunga rampai dari Suriname ke Tongar, oleh Salikin
Mardi Hardjo.
4. Migran Jawa di Suriname, oleh Drs. Kadi Kartokromo
(Suriname)
5. Kebijakan kependudukan di Suriname, oleh Antoon S.
Sisal (Suriname)
6.
Historical
Data Base of Suriname, oleh Maurits S. Hassankhan &Sandew Hira (Suriname
dan Belanda) (dikoreksi lagi tgl. 24 Juli 2007) BanyuMili (www.banyumili.info) situs web masyarakat
Suriname keturunan Jawa itu kemilikan Reinier Kromopawiro.
Kamis, 09 Februari 2012
Mari kita isi Surat Pemeritahuan Tahunan (SPT) PPh 2011
Setelah memasuki era baru di Tahun 2012, sebagai warga negara yang baik kita masih mempunyai tanggungan pekerjaan yang harus segera diselasaikan. Seperti pada tahun -tahun sebelumnya, setiap wajib pajak yang memiliki penghasilan atau melakukan kegiatan usaha, baik sebagai karyawan, wirausaha, pegawai/pegawai negeri, badan usaha baik negeri ataupun swasta diwajibkan untuk melaporkan kegiatan usaha/penghasilannya dengan mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) Tahun 2011. Format SPT Tahunan ini harus memenuhi format standar yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, yang dapat kita download di www.pajak.go.id.
Batas pembayaran PPh Pasal 29 (apabila ada kekurangan pembayaran pajak dalam tahun berjalan) adalah tanggal 25 Maret 2012. Sedangkan batas akhir pemasukan/pelaporan SPT Tahunan PPh adalah tanggal 31 Maret 2012. Penyampaian laporan SPT tersebut dapat dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat atau dilakukan di drop box yang telah ditentukan oleh masing-masing KPP.
Batas pembayaran PPh Pasal 29 (apabila ada kekurangan pembayaran pajak dalam tahun berjalan) adalah tanggal 25 Maret 2012. Sedangkan batas akhir pemasukan/pelaporan SPT Tahunan PPh adalah tanggal 31 Maret 2012. Penyampaian laporan SPT tersebut dapat dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat atau dilakukan di drop box yang telah ditentukan oleh masing-masing KPP.
Rabu, 16 Maret 2011
Tujuh Alasan Pria Takut Dekati Wanita Sukses
Inilah 7 Penyebab Pria Takut Dekati Wanita Sukses
Cantik, percaya diri, mandiri, seksi dan sukses sudah Anda miliki. Pria idaman pun seharusnya mudah didapat. Tetapi kenyatannya pria yang Anda suka, tampaknya justru menghindar dari Anda. Apa alasannya? Padahal Anda memiliki semua kriteria yang positif. Ternyata, kesuksesan secara karir dan personal bukan jaminan sukses juga di percintaan. Beberapa pria justru memilih menghindar dari para wanita sukses. Apa alasannya? Inilah, tujuh alasan pria kurang tertarik pada wanita sukses, seperti dikutip dari Ezinearticles:
Semakin sukses semakin jauh jodoh, benarkah mitos tersebut?
- Dia Hanya akan Menjadi Bayangan. Pria akan merasa tidak aman bila pasangannya jauh lebih sukses darinya. Ia takut pasangannya akan memegang kendali pada hubungan yang akan dijalani.
- Dia Takut Anda Mengambil Peranannya. Anda mandiri dan dapat mengontrol hidup sendiri. Seorang pria takut bila terjadi suatu masalah dalam hubungannya, yang akan memecahkan masalah adalah wanita yang jadi kekasihnya. Padahal ia juga dapat memecahkan masalah tersebut. Ia takut Anda mengambil alih peranannya karena merasa mampu untuk menyelesaikannya.
- Anda akan Menekannya. Dia berpikir bahwa wanita sukses memiliki karakter ‘bossy’ dan selalu mendapatkan apa saja dengan cara mereka. Hal tersebut akan sangat menakutkan bagi pria untuk memikirkan seorang wanita yang akan selalu menekannya dan tidak kenal kompromi.
- Apakah Anda Berpenghasilan Lebih Besar Darinya? Untuk beberapa pria sangat penting membandingkan penghasilan Anda dengannya. Jika penghasilan Anda jauh lebih besar, ia pun tidak akan berani untuk mengencani Anda. Karena ia menganggap Anda dapat menyediakan segala sesuatu sendiri tanpa bantuannya.
- Orang Lain akan Membicarakan Kekurangannya. Anda memiliki kesuksesan dan populer, sedangkan dia tidak memiliki semua itu. Ia akan berpikir tidak akan menemukan kecocokan bila berkencan dengan wanita seperti Anda. Ia takut mendapatkan kritikan dan komentar mengenai hal itu dari berbagai pihak yang mengetahuinya.
- Akankan Anda Memperlakukannya Seperti Anak Kecil?. Karena Anda memiliki segalanya dan ia tidak, akankah Anda memperlakukannya seperi anak kecil untuk membuatnya berbeda? Akankan Anda seperti ibunya yang mengatur semua tindakannya? Itulah beberapa hal yang menjadi kekhawatiran pria.
- Ia Tidak Percaya Diri. Mungkin ia berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita sukses akan sangat berat baginya, karena ia merasa tidak bisa menangani seseorang yang lebih unggul darinya.
Label:
alasan pria,
Wanita karir
Selasa, 13 Juli 2010
Perkataan yang dilarang diucapkan di tempat kerja.
Disadari atau tidak, kalimat yang kita lontarkan pada atasan memberi pengaruh cukup besar pada perkembangan karier. Bila kalimat positif yang sering Anda ungkapkan, percayalah, kesempatan promosi tidak akan pernah lepas dari genggaman. Sebaliknya, bila kalimat negatif yang keluar maka promosi pun enggan mampir pada Anda. Nah, agar Anda tak terpeleset gara-gara salah bicara, simak 10 kalimat yang terlarang diucapkan pada atasan.
"Pekerjaan ini tak bisa dilakukan"
Semua hal adalah mungkin. Jika Anda mengatakan, sesuatu tidak mungkin Anda lakukan, kalimat ini adalah harga mati. Atasan akan mendapat kesan, bahwa Anda mudah menyerah dan tidak maksimal dalam berusaha. Sebelum mengeluh, coba selidiki tujuan atasan memberikan tugas itu, apa yang sebenarnya diinginkan atasan. Meskipun target yang diinginkan tidak mungkin tercapai, lebih baik Anda komunikasikan mengenai tantangan yang dihadapi ini dan mendiskusikan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.
"Saya tidak suka tugas ini"
Ketika bekerja, mungkin saja Anda mendapat tugas yang disukai atau tidak disukai. Namun, apa pun kemungkinannya, semua itu tetap tugas yang harus dikerjakan. Jika Anda menolak tugas atas dasar rasa suka dan ketidaksukaan, Anda akan terlihat sebagai orang yang suka pilih-pilih tanggung jawab, manja, dan tidak siap menghadapi dunia pekerjaan. Nantinya, Anda akan semakin tersingkirkan dari kerja tim dan tanggung jawab lebih besar. Sebab, atasan tak mau mengambil risiko menghadapi penolakan Anda atas tugas yang diberikan.
"Ini tak termasuk dalam deskripsi pekerjaan saya"
Selama yang diminta untuk lakukan tidak jauh dari lingkup kerja perusahaan, sebaiknya jangan mengatakan kalimat ini kepada atasan. Sekarang ini, perusahaan menginginkan kerja tim dan fleksibilitas dari karyawan mereka, yang kadang menuntut pekerjaan di luar tugas sehari-hari, untuk meraih target. Jika Anda pikir tugas tersebut adalah ide yang buruk, coba jelaskan dengan alasan yang tepat mengenai pekerjaan tersebut lebih baik dikerjakan oleh orang lain. Hal ini lebih efektif daripada kalimat di atas.
"Ini bukan salah saya"
Kalimat ini justru membuat atasan tidak mempercayai Anda dan terkesan Anda lebih senang melimpahkan kesalahan pada orang lain daripada mencoba bertanggung jawab. Jika memang menjadi kesalahan dalam tim, akuilah bersama lalu berikan solusi untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan hal ini akan lebih simpatik di mata atasan. Bila yang terjadi adalah kesalahan individu, dan kebetulan tidak disebabkan oleh Anda, coba jabarkan bukti bahwa Anda telah mengambil langkah yang benar.
"Belum dikerjakan"
Atasan mengharapkan tugas dilakukan secepat mungkin setelah diberikan. Jika "belum" adalah jawaban Anda, akan membuat atasan Anda kecewa dan ia akan mengira bahwa Anda suka menunda pekerjaan. Atau menganggap justru posisi yang diberikan terlalu tinggi. Meskipun tugas tersebut belum selesai, beri jawaban mengenai kemajuan yang telah dilakukan dan target Anda untuk menyelesaikan tugas tersebut.
"Saya tidak mengerti"
Sesekali menanyakan kembali tugas yang telah diberikan atasan, boleh saja. Namun, jika sering kali membuat Anda terlihat kurang memerhatikan perkataan atasan, hal ini akan mengurangi poin Anda ketika tiba saatnya evaluasi untuk promosi jabatan. Apabila ingin menghindari kesalahpahaman mengenai tugasnya, coba ulangi pemahaman yang Anda terima. Hal ini lebih jelas dalam menggambarkan tingkat pemahaman Anda.
"Saya sudah tahu, tak perlu diajari"
Mungkin Anda ingin menyampaikan bahwa Anda paham mengenai tugas yang diberikan dan cara yang harus dilakukan. Namun, kalimat ini akan menyinggung bagi atasan yang mendengarnya. Lagipula, kalimat seperti ini cenderung menggambarkan orang yang keras kepala dan tidak bersikap terbuka terhadap kritik dan kurang berusaha memperbaiki diri.
"Pekerjaan ini sungguh melelahkan"
Intinya adalah, jangan mengeluhkan mengenai pekerjaan kepada atau di hadapan atasan. Hal ini membuat Anda terlihat kurang dewasa, kurang mampu untuk diberikan tanggung jawab lebih besar dan tidak tangguh. Hal ini memperkecil kemungkinan Anda untuk meraih promosi jaban karena atasan menjadi ragu-ragu terhadap kemampuan Anda.
"Kenapa si X mendapat pekerjaan yang lebih mudah?"
Iri hati kepada rekan kerja akan menyebabkan atasan berpikir bahwa Anda tidak suka mendapatkan tanggung jawab lebih besar. Atasan akan berpikir bahwa Anda tidak menyukai tantangan yang biasanya pada posisi lebih tinggi. Lagipula, pernyataan ini seolah-olah menanyakan kebijakan yang diberikan atasan, padahal mungkin sebenarnya atasan memiliki tujuan lain ketika memberikan tugas itu.
"Pekerjaan ini tak bisa dilakukan"
Semua hal adalah mungkin. Jika Anda mengatakan, sesuatu tidak mungkin Anda lakukan, kalimat ini adalah harga mati. Atasan akan mendapat kesan, bahwa Anda mudah menyerah dan tidak maksimal dalam berusaha. Sebelum mengeluh, coba selidiki tujuan atasan memberikan tugas itu, apa yang sebenarnya diinginkan atasan. Meskipun target yang diinginkan tidak mungkin tercapai, lebih baik Anda komunikasikan mengenai tantangan yang dihadapi ini dan mendiskusikan solusi untuk mengatasi tantangan tersebut.
"Saya tidak suka tugas ini"
Ketika bekerja, mungkin saja Anda mendapat tugas yang disukai atau tidak disukai. Namun, apa pun kemungkinannya, semua itu tetap tugas yang harus dikerjakan. Jika Anda menolak tugas atas dasar rasa suka dan ketidaksukaan, Anda akan terlihat sebagai orang yang suka pilih-pilih tanggung jawab, manja, dan tidak siap menghadapi dunia pekerjaan. Nantinya, Anda akan semakin tersingkirkan dari kerja tim dan tanggung jawab lebih besar. Sebab, atasan tak mau mengambil risiko menghadapi penolakan Anda atas tugas yang diberikan.
"Ini tak termasuk dalam deskripsi pekerjaan saya"
Selama yang diminta untuk lakukan tidak jauh dari lingkup kerja perusahaan, sebaiknya jangan mengatakan kalimat ini kepada atasan. Sekarang ini, perusahaan menginginkan kerja tim dan fleksibilitas dari karyawan mereka, yang kadang menuntut pekerjaan di luar tugas sehari-hari, untuk meraih target. Jika Anda pikir tugas tersebut adalah ide yang buruk, coba jelaskan dengan alasan yang tepat mengenai pekerjaan tersebut lebih baik dikerjakan oleh orang lain. Hal ini lebih efektif daripada kalimat di atas.
"Ini bukan salah saya"
Kalimat ini justru membuat atasan tidak mempercayai Anda dan terkesan Anda lebih senang melimpahkan kesalahan pada orang lain daripada mencoba bertanggung jawab. Jika memang menjadi kesalahan dalam tim, akuilah bersama lalu berikan solusi untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan hal ini akan lebih simpatik di mata atasan. Bila yang terjadi adalah kesalahan individu, dan kebetulan tidak disebabkan oleh Anda, coba jabarkan bukti bahwa Anda telah mengambil langkah yang benar.
"Belum dikerjakan"
Atasan mengharapkan tugas dilakukan secepat mungkin setelah diberikan. Jika "belum" adalah jawaban Anda, akan membuat atasan Anda kecewa dan ia akan mengira bahwa Anda suka menunda pekerjaan. Atau menganggap justru posisi yang diberikan terlalu tinggi. Meskipun tugas tersebut belum selesai, beri jawaban mengenai kemajuan yang telah dilakukan dan target Anda untuk menyelesaikan tugas tersebut.
"Saya tidak mengerti"
Sesekali menanyakan kembali tugas yang telah diberikan atasan, boleh saja. Namun, jika sering kali membuat Anda terlihat kurang memerhatikan perkataan atasan, hal ini akan mengurangi poin Anda ketika tiba saatnya evaluasi untuk promosi jabatan. Apabila ingin menghindari kesalahpahaman mengenai tugasnya, coba ulangi pemahaman yang Anda terima. Hal ini lebih jelas dalam menggambarkan tingkat pemahaman Anda.
"Saya sudah tahu, tak perlu diajari"
Mungkin Anda ingin menyampaikan bahwa Anda paham mengenai tugas yang diberikan dan cara yang harus dilakukan. Namun, kalimat ini akan menyinggung bagi atasan yang mendengarnya. Lagipula, kalimat seperti ini cenderung menggambarkan orang yang keras kepala dan tidak bersikap terbuka terhadap kritik dan kurang berusaha memperbaiki diri.
"Pekerjaan ini sungguh melelahkan"
Intinya adalah, jangan mengeluhkan mengenai pekerjaan kepada atau di hadapan atasan. Hal ini membuat Anda terlihat kurang dewasa, kurang mampu untuk diberikan tanggung jawab lebih besar dan tidak tangguh. Hal ini memperkecil kemungkinan Anda untuk meraih promosi jaban karena atasan menjadi ragu-ragu terhadap kemampuan Anda.
"Kenapa si X mendapat pekerjaan yang lebih mudah?"
Iri hati kepada rekan kerja akan menyebabkan atasan berpikir bahwa Anda tidak suka mendapatkan tanggung jawab lebih besar. Atasan akan berpikir bahwa Anda tidak menyukai tantangan yang biasanya pada posisi lebih tinggi. Lagipula, pernyataan ini seolah-olah menanyakan kebijakan yang diberikan atasan, padahal mungkin sebenarnya atasan memiliki tujuan lain ketika memberikan tugas itu.
Senin, 16 Februari 2009
Diklat ke Manado, SULUT
Waktu menunjukkan pukul 14.00 WITA, aktivitas di kantor kami tampak sibuk mengurusi Diklat Kesamaptaan Bea dan Cukai Angkatan I di Balikpapan. Dari ruang kerja, ku dengar Pak Yudi sedang berbicara lewat telepon selular. Entah dengan siapa beliau berbincang-bincang, tak lama kemudian Pak Yudi memanggilku:
"Gun, kamu ke Manado!!! Coba kamu lihat di Internet"!
"Apa Pak. saya dimutasi ke Manado???" Waduuuuuhhh, serius kah Pak saya dimutasi ke Manado?."
"Sudah, buka aja di internet, nama mu ada di sana". Jawab Pak Yudi tanpa mengakhiri pembicaraan telepon selularnya.
Sambil berjalan menghampiriku, Pak Yudi minta untuk membuka situs www.perbendaharaan.go.id.
Setelah saya buka, ternyata bukannya saya sedih, tapi malah senang sekali. (loh kok bisa yaaa???)
Heheheheh......, ternyata bukannya aku dimutasi ke Manado, tetapi aku di panggil untuk mengikuti Diklat PPAKP Angkatan VI di Manado. Wah ruaaarrr biasa neh...., bisa mampir bunaken dunk.... (Husss....!!! Diklat dulu, baru ke Bunaken!!! heheheh)
Yang membuat aku terkejut jika aku dimutasi ke Manado adalah...., selama ini pandangan aku tentang manado adalah bahwa Manado itu jauuuuhhhh bgt..., apalagi disana gak ada orang yang dikenal, dan sering orang katakan bahwa manado itu......???????? (Sorry..., disensor tuhh)
Tapi setelah aku berangkat ke Manado seorang diri, ternyata Manado itu indah juga ya, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya gitu loh, jadi aku ambil positifnya aja.. hehehehhe
Sesampai di Ritzy Hotel Manado..., sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, tak terasa karena mengikuti Diklat dengan penuh semangat (ya... itung2 sambil liat2 kampung orang... hihihihihihihihi)
Di diklat ini aku mendapatkan banyak teman baru dari berbagai daerah: Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulut, Kep. Sangihe, Maluku Utara, Ternate, Ambon, Halmahera, Timor Tengah Utara, banyak lagi dech yang belum sempat disebutkan..
Mereka tidak hanya berasal dari DEPKEU saja, tetapi juga dari POLRI, DEPTAN, BPS, KPU, DEPHUB, DEPSOS, BMG, DEPAG., apalagi ya,.... banyak desch...
Kota Manado terletak di pinggir Laut, yang dikelilingi oleh pegunungan dan bukit-bukit yang begitu indah. Wah, pokoknya diklay di Manado asyik banget gitu dech.., banyak pengalaman baru yang aku dapatkan di sana. Jadi nambah wawasan sedikit tentang kota manado dan penduduknya gitu...
Apalagi ditambah dengan teman-teman peserta diklat yang beraneka ragam tingkah polahnya: lucu, konyol, kocak, "gila"... asyik banget pokoknya...
Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika mengunjungi Bunaken, Bukit Kasih, Boulevard, dan makan Bubur Manado. Ruarrrrrrr Biasah...!
"Gun, kamu ke Manado!!! Coba kamu lihat di Internet"!
"Apa Pak. saya dimutasi ke Manado???" Waduuuuuhhh, serius kah Pak saya dimutasi ke Manado?."
"Sudah, buka aja di internet, nama mu ada di sana". Jawab Pak Yudi tanpa mengakhiri pembicaraan telepon selularnya.
Sambil berjalan menghampiriku, Pak Yudi minta untuk membuka situs www.perbendaharaan.go.id.
Setelah saya buka, ternyata bukannya saya sedih, tapi malah senang sekali. (loh kok bisa yaaa???)
Heheheheh......, ternyata bukannya aku dimutasi ke Manado, tetapi aku di panggil untuk mengikuti Diklat PPAKP Angkatan VI di Manado. Wah ruaaarrr biasa neh...., bisa mampir bunaken dunk.... (Husss....!!! Diklat dulu, baru ke Bunaken!!! heheheh)
Yang membuat aku terkejut jika aku dimutasi ke Manado adalah...., selama ini pandangan aku tentang manado adalah bahwa Manado itu jauuuuhhhh bgt..., apalagi disana gak ada orang yang dikenal, dan sering orang katakan bahwa manado itu......???????? (Sorry..., disensor tuhh)
Tapi setelah aku berangkat ke Manado seorang diri, ternyata Manado itu indah juga ya, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya gitu loh, jadi aku ambil positifnya aja.. hehehehhe
Sesampai di Ritzy Hotel Manado..., sehari, dua hari, tiga hari, seminggu, tak terasa karena mengikuti Diklat dengan penuh semangat (ya... itung2 sambil liat2 kampung orang... hihihihihihihihi)
Di diklat ini aku mendapatkan banyak teman baru dari berbagai daerah: Kaltim, Kalteng, Kalsel, Sulut, Kep. Sangihe, Maluku Utara, Ternate, Ambon, Halmahera, Timor Tengah Utara, banyak lagi dech yang belum sempat disebutkan..
Mereka tidak hanya berasal dari DEPKEU saja, tetapi juga dari POLRI, DEPTAN, BPS, KPU, DEPHUB, DEPSOS, BMG, DEPAG., apalagi ya,.... banyak desch...
Kota Manado terletak di pinggir Laut, yang dikelilingi oleh pegunungan dan bukit-bukit yang begitu indah. Wah, pokoknya diklay di Manado asyik banget gitu dech.., banyak pengalaman baru yang aku dapatkan di sana. Jadi nambah wawasan sedikit tentang kota manado dan penduduknya gitu...
Apalagi ditambah dengan teman-teman peserta diklat yang beraneka ragam tingkah polahnya: lucu, konyol, kocak, "gila"... asyik banget pokoknya...
Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika mengunjungi Bunaken, Bukit Kasih, Boulevard, dan makan Bubur Manado. Ruarrrrrrr Biasah...!
Rabu, 29 Oktober 2008
Hari Keuangan ke-62 Tahun 2008
Langit mendung telah menyelimuti kota Balikpapan sejak pagi ini. Rombongan peserta Diklat kesamaptaan pun telah sampai di halaman GKN. Para pegawai yang ditugaskan untuk menjadi Prtugas upacara Hari Keuangan ke-62 telah menempati posisi masing-masing, Tidak ketinggalan pula para peserta upacara yang terdiri dari pegawai Departemen Keuangan ikut meramaikan suasana persiapan upacara. Persiapan ini di akhiri dengan datangnya rombongan Drum Band" dari TNI untuk mengiringi jalanya upacara tersebut, sebagai tanda bahwa upacara siap dimulai.
"Upacara Pengibaran Bendera, Hari Keuangan ke-62 Dimulai". Tegas petugas protokol upacara. Rombongan Drum Band pun mulai mengiringi jalannya upacara.
Upacara berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Petugas pembaca UUD 1945 dan Pembacaan Detik-Detik Beredarnya Oeang Republik Indonesia telah berjalan menuju tengah lapangan. Tiba-tiba rintik-rintik air mulai turun. Wooww... ini kali kedua turun hujan pada Upacara Hari Keuangan sejak Tahun 2004 di Balikpapan.
Petugas pembaca UUD 1945 tetap dengan lantang membaca teks UUD 1945, dilanjutkan dengan pembacaan Detik-detik beredarnya Oeang Repoeblik Indonesia. Hujan turun dengan derasnya. Tetapi hal itu bukan alasan untuk tidak khidmat melaksanakan upacara bendera. Hingga Upacara selesai, rintik air hujan masih terus membasahi para peserta upacara.
"Upacara Pengibaran Bendera, Hari Keuangan ke-62 Dimulai". Tegas petugas protokol upacara. Rombongan Drum Band pun mulai mengiringi jalannya upacara.
Upacara berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Petugas pembaca UUD 1945 dan Pembacaan Detik-Detik Beredarnya Oeang Republik Indonesia telah berjalan menuju tengah lapangan. Tiba-tiba rintik-rintik air mulai turun. Wooww... ini kali kedua turun hujan pada Upacara Hari Keuangan sejak Tahun 2004 di Balikpapan.
Petugas pembaca UUD 1945 tetap dengan lantang membaca teks UUD 1945, dilanjutkan dengan pembacaan Detik-detik beredarnya Oeang Repoeblik Indonesia. Hujan turun dengan derasnya. Tetapi hal itu bukan alasan untuk tidak khidmat melaksanakan upacara bendera. Hingga Upacara selesai, rintik air hujan masih terus membasahi para peserta upacara.
Langganan:
Entri (Atom)